Kamis, 07 Januari 2016

Menganal sedini mungkin Tumor payudara


WANITA PERLU TAU

Tumor payudara atau dalam istilah kedokteran biasa disebut FAM (Fibroa Denomma Mammae) merupakan salah salah satu penyakit yang sering diderita perempuan selain serviks (kangker rahim). Penyakit ini tidak hanya menyerang para wanita saja, namun laki-laki juga berpotensi untuk menderita penyakit ini.


Penyakit ini pernah saya derita ketika saya berusia 20 tahun. Gejala awal munculnya penyakit ini adalah adanya satu benjolan kecil di payudara bagian atas. Benjolan tersebut seperti jelly namun agak keras dan tidak dapat berpindah (seperti ada akar yang menahannya). Selain itu, tidak ada rasa sakit sedikitpun pada benjolan tersebut sehingga pada awalnya saya mengabaikan benjolan tersebut.
Namun, setelah 3 bulan kemudian, saya memberanikan diri untuk memeriksakan benjolan tersebut ke Rumah Sakit di daerah Blitar. Ya, dan dokter langsung mendiagnosa saya bahwa benjolan tersebut adalah FAM. Sempat sedikit shock ketika dokter menyatakan penyakit benjolan tersebut adalah tumor, namun dokter memberikan penjelasan bahwa kemungkinan besar tumor yang saya derita adalah tumor jinak.
Setelah itu, saya melakukan berbagai pemeriksaan seperti ronsen dan pengambilan darah. Selanjutnya, saya mendaftar untuk operasi yang ternyata dapat saya lakukan satu bulan setelahnya karena antria operasi yang begitu banyak.
Sebelumnya, saya sarankan untuk membuat BPJS terlebih dahulu bagi yang belum mempunyai. Karena, biaya normal operasi saat itu adalah sekitar 8 juta, sedangkan ketika memakai BPJS, tidak ditarik biaya sedikitpun kecuali untuk beberapa obat yang memang di luar jangkauan BPJS.
Setelah menunggu satu bulan, akhirnya tiba waktu saya untuk menjalani operasi. Setelah satu bulan tersebut, masih belum ada perubahan besarnya benjolan pada payudara saya. Namun, saya benar berniat untuk segera membuang penyakit ini. Memang ada beberapa cara tradisional tanpa harus melakukan operasi, namun saran saya lebih baik melakukan operasi agar tumor bisa disingkirkan lebih cepat. Karena takutnya jika belarut-larut tidak kunjung diobati, malah akan semakin membesar dan berubah menjadi tumor ganas atau kangker.
Sebelum melakukan operasi, saya harus berpuasa terlebih dahulu mulai dari pukul 12 malam dan operasi dilaksanakan pukul 12 siang. Ada dua pilihan bius yang bisa digunakan, yaitu bius lokal (pada bagian yang akan dioperasi saja) dan bius keseluruhan. Saya memilih bius keseluruhan karena saya sendiri takut apabila dioperasi dalam keadaan sadar. Setelah memasuki ruang operasi, dokter yang dibantu oleh beberapa perawat mulai memasang kabel (yang entah apa namanya) ke beberapa titik di tubuh saya. selanjutnya, dokter meminta saya untuk menghirup dalam-dalam gas dan dalam 2 hirupan saja, saya sudah tidak sadarkan diri.
Entah apa yang sudah saya lewati, saya tiba-tiba terbangun dan ternyata operasi sudah selesai. Saat itu, keluarga saya mengelilingi saya untuk mencoba menyadarkan saya sepenuhnya. Namun, karena mungkin efek dari obat bius yang masih ada, saya masih kesulitan untuk membuka mata dan masih ingin terlelap.
Seusai operasi, yang saya rasakan pertama kali adalah rasa haus. Benar-benar haus hingga saya sulit untuk berbicara karena tenggorokan terlalu kering. Sedangan dokter mengizinkan makanan atau minuman masuk setelah saya bisa buang gas (kentut). Hal ini dikarenakan kentut merupakan tanda bahwa tubuh kita siap untuk menerima sesuatu dari luar karena organ-organ tubuh telah terbangun dan bisa bekerja normal kembali. Jika dipaksakan untuk menelan sesuatu tanpa menunggu buang gas, efek yang mungkin terjadi adalah muntah karena tubuh masih belum siap menerima itu.
Sekitar 3 jam setelah operasi, akhirnya saya bisa kentut sehingga diperbolehkan untuk minum. Rasa sakit setelah operasi tidak begitu terasa. Tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya bahwa setelah operasi akan terasa sangat sakit. Karena tidak ada keluhan pasca operasi, akhirnya saya boleh pulang sehari setelahnya dan check up keika obat telah habis.
Dari pengalaman saya tersebut, ada beberapa pesan baik bagi penderita maupun bukan:
1.      Periksalah payudara secara rutin minimal satu bulan sekali. Terutama bagi para wanita, periksa payudara setiap setelah menstruasi. Caranya yaitu dengan meraba bagian payudara sampai bagian ketiak apakah ada benjolan atau tidak.
2.      Jika ditemukan benjolan sekecil apapun atau perubahan pada bentuk dan warna payudara segera periksakan ke dokter. Hal yang membuat penyakit ini berbahaya adalah penanganan yang terlambat. Maka dari itu, tak perlu takut untuk sekedar memeriksakan diri ke dokter agar penanganan juga lebih mudah.
3.      Bagi penderita tumor, janganlah terlalu sering memencet-mencet atau memegang benjolan tumor.
4.      Bagi penderita pra maupun pasca operasi tumor, sebaiknya kurangi makanan yang berupa kacang-kacangan. Hal ini dikarenakan makanan tersebut dapat memicu tumbuhnya benjolan kembali pada payudara.
5.      Menjaga pola makan dan memperbanyak sayuran. Bagi penderita maupun orang yang ingin mencegah, pola makan yang baik tentu sangat dibutuhkan agar terhindar dari bahaya penyakit. Hindari makan makanan kemasan yang banyak mendandung pengawet dan MSG seperti junk food.

Inilah sekelumit cerita saya bersama sang Tumor yang telah hilang dari tubuh saya. semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi semuanya. Dan jangan lupa, berdoa untuk meminta kesembuhan dari Allah. Sekian. Like atau comment ya..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar