WANITA PERLU TAU
Tumor
payudara atau dalam istilah kedokteran biasa disebut FAM (Fibroa Denomma
Mammae) merupakan salah salah satu penyakit yang sering diderita perempuan
selain serviks (kangker rahim). Penyakit ini tidak hanya menyerang para wanita
saja, namun laki-laki juga berpotensi untuk menderita penyakit ini.
Penyakit
ini pernah saya derita ketika saya berusia 20 tahun. Gejala awal munculnya
penyakit ini adalah adanya satu benjolan kecil di payudara bagian atas. Benjolan
tersebut seperti jelly namun agak keras dan tidak dapat berpindah (seperti ada
akar yang menahannya). Selain itu, tidak ada rasa sakit sedikitpun pada
benjolan tersebut sehingga pada awalnya saya mengabaikan benjolan tersebut.
Namun,
setelah 3 bulan kemudian, saya memberanikan diri untuk memeriksakan benjolan
tersebut ke Rumah Sakit di daerah Blitar. Ya, dan dokter langsung mendiagnosa
saya bahwa benjolan tersebut adalah FAM. Sempat sedikit shock ketika dokter
menyatakan penyakit benjolan tersebut adalah tumor, namun dokter memberikan
penjelasan bahwa kemungkinan besar tumor yang saya derita adalah tumor jinak.
Setelah
itu, saya melakukan berbagai pemeriksaan seperti ronsen dan pengambilan darah. Selanjutnya,
saya mendaftar untuk operasi yang ternyata dapat saya lakukan satu bulan
setelahnya karena antria operasi yang begitu banyak.
Sebelumnya,
saya sarankan untuk membuat BPJS terlebih dahulu bagi yang belum mempunyai. Karena,
biaya normal operasi saat itu adalah sekitar 8 juta, sedangkan ketika memakai
BPJS, tidak ditarik biaya sedikitpun kecuali untuk beberapa obat yang memang di
luar jangkauan BPJS.
Setelah
menunggu satu bulan, akhirnya tiba waktu saya untuk menjalani operasi. Setelah
satu bulan tersebut, masih belum ada perubahan besarnya benjolan pada payudara
saya. Namun, saya benar berniat untuk segera membuang penyakit ini. Memang ada
beberapa cara tradisional tanpa harus melakukan operasi, namun saran saya lebih
baik melakukan operasi agar tumor bisa disingkirkan lebih cepat. Karena
takutnya jika belarut-larut tidak kunjung diobati, malah akan semakin membesar
dan berubah menjadi tumor ganas atau kangker.
Sebelum
melakukan operasi, saya harus berpuasa terlebih dahulu mulai dari pukul 12
malam dan operasi dilaksanakan pukul 12 siang. Ada dua pilihan bius yang bisa
digunakan, yaitu bius lokal (pada bagian yang akan dioperasi saja) dan bius
keseluruhan. Saya memilih bius keseluruhan karena saya sendiri takut apabila dioperasi
dalam keadaan sadar. Setelah memasuki ruang operasi, dokter yang dibantu oleh
beberapa perawat mulai memasang kabel (yang entah apa namanya) ke beberapa
titik di tubuh saya. selanjutnya, dokter meminta saya untuk menghirup
dalam-dalam gas dan dalam 2 hirupan saja, saya sudah tidak sadarkan diri.
Entah
apa yang sudah saya lewati, saya tiba-tiba terbangun dan ternyata operasi sudah
selesai. Saat itu, keluarga saya mengelilingi saya untuk mencoba menyadarkan
saya sepenuhnya. Namun, karena mungkin efek dari obat bius yang masih ada, saya
masih kesulitan untuk membuka mata dan masih ingin terlelap.
Seusai
operasi, yang saya rasakan pertama kali adalah rasa haus. Benar-benar haus
hingga saya sulit untuk berbicara karena tenggorokan terlalu kering. Sedangan
dokter mengizinkan makanan atau minuman masuk setelah saya bisa buang gas
(kentut). Hal ini dikarenakan kentut merupakan tanda bahwa tubuh kita siap
untuk menerima sesuatu dari luar karena organ-organ tubuh telah terbangun dan
bisa bekerja normal kembali. Jika dipaksakan untuk menelan sesuatu tanpa
menunggu buang gas, efek yang mungkin terjadi adalah muntah karena tubuh masih
belum siap menerima itu.
Sekitar
3 jam setelah operasi, akhirnya saya bisa kentut sehingga diperbolehkan untuk
minum. Rasa sakit setelah operasi tidak begitu terasa. Tidak seperti yang saya
bayangkan sebelumnya bahwa setelah operasi akan terasa sangat sakit. Karena
tidak ada keluhan pasca operasi, akhirnya saya boleh pulang sehari setelahnya
dan check up keika obat telah habis.
Dari
pengalaman saya tersebut, ada beberapa pesan baik bagi penderita maupun bukan:
1.
Periksalah
payudara secara rutin minimal satu bulan sekali. Terutama bagi para wanita,
periksa payudara setiap setelah menstruasi. Caranya yaitu dengan meraba bagian
payudara sampai bagian ketiak apakah ada benjolan atau tidak.
2.
Jika
ditemukan benjolan sekecil apapun atau perubahan pada bentuk dan warna payudara
segera periksakan ke dokter. Hal yang membuat penyakit ini berbahaya adalah
penanganan yang terlambat. Maka dari itu, tak perlu takut untuk sekedar
memeriksakan diri ke dokter agar penanganan juga lebih mudah.
3.
Bagi
penderita tumor, janganlah terlalu sering memencet-mencet atau memegang
benjolan tumor.
4.
Bagi
penderita pra maupun pasca operasi tumor, sebaiknya kurangi makanan yang berupa
kacang-kacangan. Hal ini dikarenakan makanan tersebut dapat memicu tumbuhnya
benjolan kembali pada payudara.
5.
Menjaga
pola makan dan memperbanyak sayuran. Bagi penderita maupun orang yang ingin
mencegah, pola makan yang baik tentu sangat dibutuhkan agar terhindar dari
bahaya penyakit. Hindari makan makanan kemasan yang banyak mendandung pengawet
dan MSG seperti junk food.
Inilah
sekelumit cerita saya bersama sang Tumor yang telah hilang dari tubuh saya.
semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi semuanya. Dan jangan lupa, berdoa
untuk meminta kesembuhan dari Allah. Sekian. Like atau comment ya..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar